Tribuanatunggadewi; Wanita Dibalik Tahta

Perempuan menjadi pemimpin masih dipandang sebelah mata oleh beberapa kalangan dengan berbagai argumennya. Berbagai argumenpun tumbang saat fakta berbicara. Sejarah mencatat ditangan perempuanlah Majapahit merintis puncak kejayaannya. Dialah Raja ketiga Majapahit, Tribuanatunggadewi.

Nama aslinya adalah Tribuana Wijayatunggadewi. Anak dari pendiri Kerajaan Majapahit, yaitu Raden Wijaya dari hasil perkawinannya dengan putri Kertanegara, Dyah Dewi Gayatri. Tahtanya berada di Kahuripan. Sebuah kawasan yang merupakan wilayah bawahan Majapahit, terletak di sekitar Sidoarjo  . Oleh karena itu, Tribuana Tunggadewi seringkali disebut Bhre Kahuripan.

Cerita tentang perempuan bersejarah yang satu ini memang jarang sekali diketahui oleh khalayak. Padahal jika teliti mencerna sejarah, sejatinya peranan Tribuana Tunggadewi dalam merintis Majapahit menuju masa keemasan sangatlah besar.

Tribuana Tunggadewi adalah sosok dibalik kejayaan Gajah Mada. Sejak menjadi anggota bayangkara Majapahit, Tribuana sudah banyak mengetahui kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh Gajah Mada. Maka ketika Tribuana diangkat sebagai Ratu di Kahuripan, Gajah Mada diusulkan menjadi Patih Kahuripan. Begitupun pasca meninggalnya Raja kedua Majapahit,Jayanegara, posisinya digantikan oleh Tribuana Tunggadewi, Gajah Madapun naik posisi sebagai Mahapatih Majapahit.

Dibidang politik, prestasi Raja ketiga yang bergelar Tribuanatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani ini sangatlah menarik. Dialah otak dibalik padamnya pemberontakan Keta dan Sadeng. Bahkan dalam kasus Sadeng, Raja perempuan pertama Majapahit ini bertindak sebagai panglima perang. Tidak hanya itu, Tribuana juga terlibat sebagai pengarah disusunnya rencana besar yang digawangi oleh Gajah Mada, yaitu Sumpah Palapa.

Dibawah pemerintahan Tribuana, Majapahit sukses menakhlukkan Pejeng, Dalem Bedahulu (kerajaan yang terletak di Pulau Bali) dan seluruh wilayah Bali. Tidak cukup sampai disitu, Tribuana juga sukses menakhlukkan Kerajaan Melayu, Sumatera.

Langkah gemilang yang dilahirkan Bhre Kahuripan inilah yang kemudian diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk sebagai Raja keempat Majapahit. Setelah digantikan oleh Hayam Wuruk, peranan Tribuana dibidang politik tidak serta merta surut. Dia tetap menjadi pengarah cita-cita agung Majapahit.

Dari catatan sejarah, kiranya alasan menolak kepemimpinan perempuan karena dianggap lemah sangat tidak masuk akal. Jika perempuan dianggap lemah, barangkali Tribuana Tunggadewi tidak akan pernah sanggup mengukir kesuksesan seperti yang tertulis sejarah. Dan barangkali Indonesia belum tentu seluas dan sehebat sekarang.

Sedikit mengingat perkataan Bung Karno: ‘Jas Merah’, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

BANGKITLAH PEREMPUAN INDONESIA!!!^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s