Suami Ku Seorang Pengendali Layang-layang yang Hebat Luar Biasa.. ^_^

ini hanya persepsi, sekali lagi ku katakan ini hanya persepsi.

tabu rasanya mendengar orang bilang istri itu ibarat layang-layang. betapa tidak, pertama kali yang terpikirkan ketika orang menyebut layang-layang adalah benda tipis terombang ambing di langit. jadi aku dan istri-istri yang lain dikatakan seperti benda tipis yang terombang-ambing terbawa angin di atas sana. hhmm

namun ada persepsi berbeda, ada sebuah dimensi kehidupan seorang istri yang diambil dari benda tipis terombang-ambing angin itu. sisi kehidupan istri yang sarat akan filosofi.

setelah melalui perdebatan panjang yang hampir semalaman membicarakan layang-layang, membuka satu pintu pemahaman. bagaimana awal layang-layang bisa terbang sampai sebegitu tinggi kelangit? bagaimana bisa layang-layang menari-nari dilangit, tidak jatuh walau tanpa penyangga yang kuat? lalu bagaimana angin mengombang-ambingkannya?

benang, ya.. jawabannya ada pada benang yang mengait layang-layang itu. pernah lihat orang main layang-layang kan?? bagaimana tingkah pemain layang-layang pasti juga sudah tau. untuk mengendalikan angin yang meniup layang-layang, kadang benang yang mengait harus ditarik dan kadang harus dilepaskan. untuk membiarkan layang-layang terbang tinggi, maka benang harus di lepaskan. agar layang-layang tidak jauh tebawa angin, maka benang harus ditarik. yang paling penting adalah pengetahuan pemain layang-layang itu sendiri. kemampuan mengira-ngira terhadap kondisi layang-layang dan kondisi angin yang bertiup.

yah kurang lebih seperti itu. sama halnya seperti seorang istri. suami yang bijak akan memperlakukan istri seperti layang-layang. istri perlu kiranya berkembang sesuai dengan kemampuannya. analogi bermain layang-layang aku pikir sangat tepat. istri sebagai layang-layang, suami sebagai pemain layang-layang atau pengendali dan benangnya adalah sikap bijak suami terhadap istri. ketika seorang istri berkemauan berkembang dengan kemampuannya atau berkarir, maka akan sangat bijak apabila suami melepasnya. namun dalam mengembangkan karir sang istri terjadi suatu perbuatan yang terlewat hingga melupakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri, maka sangat bijak sekali apabila suami menariknya. tujuannya jelas, agar istri tidak terbawa kondisi lingkungannya yang kadang menjerumuskan kepada hal-hal yang buruk. disitu sangat ditekankan pada tanggungjawab seorang suami untuk bisa bersikap bijaksana dalam memperlakukan istri. kenapa tidak istri berkarir jika mampu, namun harus dikendalikan.

begitulah kehidupan. bahkan tidak pernah terbayang bahwa hal kecil yang biasa kita lakukan adalah cerminan dari hidup kita. jadi yang tadi aku bilang persepsi kini menjadi sebuah pandangan hidup.

dan sekarang yang aku pikirkan, betapa senangnya aku menjadi layang-layang. bukan benda tipis yang terombang-ambing dilangit. namun benda yang terbang menari-nari dilangit, tanpa harus takut jatuh, tanpa harus takut angin mengoyakku. karena aku punya nahkoda yang bersedia bertanggungjawab atas nasibku. melepaskanku ketika ada kesempatan yang membuatku tinggi, dan akan segera menarikku ketika keadaan membahayakanku. dialah suamiku kelak, “seorang pengendali layang-layang yang hebat, nahkoda yang luar biasa”. maka aku percayakan seluruh hidup dan matiku pula pada suami ku. begitulah aku pada suamiku kelak.

(semoga malaikat membaca dan menyampaikannya pada Tuhan ^_^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s