KONTEKSTUALISASI ZUHUD DI ABAD MODERN

KONTEKSTUALISASI ZUHUD

DI ABAD MODERN

MAKALAH

Diajukan guna memenuhi tugas

dalam mata kuliah Akhlak Tasawuf

Disusun oleh:

Galuh Tri Pambekti

NIM: 10390008/KUI-A

Dosen:

Lebba,S.AG.,M.SI

 

KEUANGAN ISLAM

FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

2010

 

A.   PENDAHULUAN

Tasawwuf sangat berkesan dalam mendidik jiwa manusia, memberikan ketenangan hati dan mengisi kekosongan jiwa. Secara prinsip tiada seorang pun yang dapat menafikan adanya konsep tasawwuf dalam tradisi Islam. Sehingga setelah memahami kepentingan tasawuf, banyak sarjana Muslim mengatakan bahawa ia adalah salah satu aspek penting ajaran Islam.

Namun pada kenyataannya tasawwuf merupakan salah satu subjek yang sering disalahfahami oleh banyak orang, baik di kalangan Muslim sendiri maupun orang bukan Islam. Hal ini berlaku di antaranya adalah karena tasawwuf telah melalui evolusi dan perkembangan yang jauh. Di Abad modern ini, di mana kehidupan masyarakat didominasi oleh worldview sekuler, tasawwuf menjadi sesuatu yang asing dan terpinggir. Malahan, ada kalangan yang beranggapan bahwa orang-orang yang mengamalkan tasawwuf adalah orang-orang yang kolot dan berfikir ke belakang.

Ketika dunia modern semakin hanyut dengan materialisme dan hedonisme, peranan tasawwuf dirasakan amat signifikan dalam usaha mengatasi permasalahan dan dilema yang dihadapi oleh masyarakat hari ini. Sikap manusia terhadap dunia sebagaimana yang telah diharapkan oleh Al Qur’an dan Al Hadist mempunyai nilai sangat positif dan merupakan senjata yang ampuh bagi manusia dalam menghadapi kehidupan yang berubah-ubah, khususnya di abad modern ini yang sarat dengan problema, baik psikis, ekonomis, dan etis. Tasawwuf sebagai salah satu disiplin ilmu keislaman tidak bisa keluar dari kerangka itu. Ajaran tasawwuf klasik, khususnya yang menyangkut konsep zuhud sebagai maqam, diartikan sebagai sikap menjauhi dunia dan isolasi terhadap duniawi semata-mata ingin bertemu dan ma’rifat kepada Allah SWT. Sehingga, zuhud dapat dijadikan sebagai benteng membangun diri dalam menghadapi gemerlapnya materi.

 

B.  PEMBAHASAN

a.      Pengertian Zuhud

Secara etimologis, zuhud berarti raghaba ‘ansyai’in wa tarakahu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah.

Secara terminologis, menurut Prof. Dr. Amin Syukur, tidak bisa dilepaskan dari dua hal. Pertama, zuhud sebagai bagian yang tak terpisahkan dari tasawuf. Apabila tasawuf diartikan adanya kesadaran dan komunikasi langsung antara manusia dengan Tuhan sebagai perwujudan ihsan, maka zuhud merupakan suatu maqam menuju tercapainya “perjumpaan” atau ma’rifat  kepada-Nya. Kedua, zuhud sebagai moral (akhlak) Islam dan gerakan protes,yaitu sikap hidup yang seharusnya dilakukan oleh seorang mislim dalam menatap dunia fana’ ini. Perbedaan antara zuhud sebagai maqam dengan zuhud sebagai moral (akhlak) Islam dan gerakan protes ialah:

1.      Yang pertama, melakukan zuhud dengan tujuan bertemu Allah SWT dan ma’rifat kepadaNya, dunia dipandang sebagai jihab antara dia dengan Tuhan. Sedangkan yang  kedua, hanya sebagai sikap mengambil jarak dengan dunia dalam rangka menghias diri dengan sifat  terpuji, karena disadari bahwa cinta dunia merupakan pangkal kejelekan (ra’su kulli khafi’ah)

2.      Yang pertama bersifat individual, sedangkan yang kedua bersifat individual dan social, dan sering dipergunakan sebagai gerakan protes terhadap ketimpangan social.

3.      Yang pertama formulasinya bersifat formatif, doktrinal, dan ahistoris. Sedangkan yang kedua formulasinya bisa diberi makna kontekstual dan historis.

b.      Faktor-faktor Zuhud

Para peneliti baik dari kalangan orientalis maupun Islam  sendiri saling berbeda pendapat tentang faktor yang mempengaruhi zuhud.

  1. Nicholson dan Ignaz Goldziher menganggap zuhud muncul dikarenakan dua faktor utama,yaitu : Islam itu sendiri dan kependetaan Nasrani.
  2. Harun Nasution mencatat ada lima pendapat tentang asal – usul zuhud. Pertama dipengaruhi oleh cara hidup rahib-rahib Kristen. Kedua, dipengaruhi oleh Phytagoras  yang megharuskan meninggalkan kehidupan materi dalamrangka membersihkan roh. Ajaran meninggalkan dunia dan berkontemplasi inilah yang mempengaruhi timbulnya zuhud dan sufisme dalam Islam. Ketiga, dipengaruhi oleh ajaran Plotinus yang menyatakan bahwadalam rangka penyucian roh yangtelah kotor,sehingga bisa menyatu dengan Tuhan harus meninggalkan dunia. Keempat, pengaruh Budha dengan faham nirwananya bahwa untukmencapainya orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Kelima, pengaruh ajaran Hindu yang juga mendorong manusia meninggalkan dunia dan mendekatkandiri kepada Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dengan Brahman.
  3. Sementara itu Abu al’ala Afifi mencatat empat pendapat parapeneliti tentang faktor atau asal –usul zuhud. Pertama, berasal dari atau dipengaruhi oleh India dan Persia. Kedua, berasal dari atau dipengaruhi oleh askestisme Nasrani. Ketiga, berasal atau dipengaruhi oleh berbagai sumber yang berbeda- beda kemudian menjelma menjadi satu ajaran. Keempat, berasal dari ajaran Islam.

Namun demikian, sesungguhnya zuhud itu dimotifasi oleh ajaran islam sendiri. Meskipun ada kesamaan antara praktek zuhud dengan berbagai ajaran filsafat dan agama sebelum Islam, tetapi zuhud tetap ada dalam Islam yang banyak dijumpai dalam Al Qur’an dan Al Hadist. Di bawah ini adalah sebagai contohnya,

مَنْ أَرَادَ اَنْ يَشْرِفَ فِى الدُّنْياَ وَاْلاَخِرَةِ فَلْيَخْتَرِ اْلاَخِرَةَ عَلىَ الدُّنْيَا اَلْفِتْنَةَ

“Barangsiapa yang menghendaki kemulyaan di dunia serta kebahagiaan di akhirat, maka mereka akan memilih kemulyaan akhirat dan menjauhi dari kenikmatan sesaat di dunia dengan segala bentuk kemaksiatan, kejahatan dan fitnah yang merajalela”.

مَا قَلَّ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبِ زَاهِدٍ

“tidak ada amalan kecil yang lebih mulya dari dalam hati seorang yang menjauhi dunia, melainkan berbuat zuhud”

إِنَّ الزُّهْدَ لَيْسَ عِبَارَةُ عَنْ أَخْلاَءِ الْيَدِ عَنِ الْمَالِ بَلْ هُوَ أَخْلاَءُ الْقَلْبِ عَنِ التَّعَلُّقِ بِهِ

Yang di namakan zuhud itu bukan ibarat orang yang menyembunyikan tangannya dari harta benda(uang, jabatan,wanita), akan tetapi zuhud yaitu menyembunyikan dari perkara yang dapat mengakibatkan kemadharatan atas segala tipu daya dunia yang fana, orang zuhud dalam hatinya terbebas dari sesuatu yang bersifat unsur duniawi, hatinya selalu condong kepada dzat Allah, melaksanakan ketaatan dan dunia hanya dijadikan sebagai perantara untuk menggapai ridho-Nya.”
c. Kontekstualisasi Sikap Zuhud di Abad Modern

Pada hakikatnya dunia dijadikan oleh Allah sebagai tempat untuk manusia mengabdi, ia adalah tempat ujian untuk menguji keimanan hamba-hamba-Nya, sebagai tempat dan alat ia sepatutnya dilihat sebagai sesuatu yang netral.  Di bawah ini akan menjelaskan konsep zuhud yang menunjukkan bahwa zuhud tidak berarti meninggalkan dunia.

Kebanyakan masyarakat hari ini memahami zuhud sebagai cara hidup yang meninggalkan dunia, berpakaian lusuh, makan dan minum ala kadarnya -tidak berkhasiat, tidak memiliki harta benda dan rumah yang kurang baik, menggunakan kendaraan yang buruk atau tidak berkendaraan langsung. Dengan konsepsi zuhud seperti ini maka konsep zuhud disinonimkan dengan kemunduran dan sikap konservatif. Jadi secara tidak langsung, orang yang menerima konsepsi zuhud seperti ini telah menyifatkan Islam dengan kemunduran dan anti dunia.

Benarkah zuhud itu sinonim dengan kemunduran dan anti dunia? Selain dari itu, persoalan yang lebih luas lagi adalah benarkah konsepsi tersebut bersandarkan kepada karya-karya ulama besar dalam ilmu tasawwuf dan akhlak seperti Ibn Arabi, al-Ghazzali dan Miskawayh.

Dalam usahanya menerangkan apa yang dimaksudkan dengan zuhud, Imam al-Ghazzali  mendefinisikan zuhud dengan: “tindakan seseorang yang menolak sesuatu yang diinginkan untuk mendapatkan sesuatu yang lain yang lebih berharga.” al-Ghazzali sendiri sering menekankan perlunya dunia dan segala apa yang terkandung digunakan sewajarnya, tidak berlebihan agar ia tidak jadi penghalang kepada penghambaan diri kepada Allah Swt.

Sebenarnya zuhud dekat dengan penolakan terhadap dunia, tetapi penolakan tersebut tidak sama sekali bermaksud meninggalkan dunia. Yang ditolak adalah kecintaan terhadap dunia (hubb al-dunya).  Dunia dengan segala kesenangan dan perhiasannya bersifat menggiurkan, manusia yang kurang imannya akan terpedaya dan menjadikannya lengah lalu meninggalkan perintah Tuhannya. Kecintaan terhadap dunia ini perlu dikawal dan ditundukkan karena jika tidak ia akan menyesatkan seseorang. Rasulullah Saw. beberapa kali mengingatkan bahwa hubb al-dunya merupakan faktor yang signifikan pada kelemahan umat Islam.

Oleh karena zuhud adalah lawan kepada hubb al-dunya, maka pada istilah yang sesuai untuk memperkenalkan kembali zuhud dengan wajah yang segar adalah bahawa ia adalah lawan kepada sifat materialistik. Seseorang yang zuhud sebenarnya adalah seseorang yang tidak ada dalam dirinya sifat materialistik, kecintaan terhadap dunia atau pun mementingkan keduniaan.Zuhud dalam arti kata hilangnya hubb al-dunya dalam diri seorang Muslim bukan satu pilihan melainkan satu kemestian. Zuhud yang selama ini dilihat sebagai suatu cara hidup yang khas dimiliki oleh para sufi atau ‘golongan agama’ sebenarnya suatu cara hidup yang diinginkan oleh Islam untuk diamalkan oleh setiap penganutnya. Islam mengajarkan umatnya agar melihat dunia sebagai alat yang digunakan untuk meraih keridhaan Allah Swt. di akhirat. Dunia dipandang sebagai alat dan bukan tujuan.

Dalam sikap zuhud seringkali diungkapkan dengan kata mencintai Allah, kesederhanaan, meninggalkan harta, menolak segala kenikmatan dunia dan hal yang berkaitan tetang duniawi (baik ilmu maupun harta), seperti kisah tokoh – tokoh sufi yang kita kenal misalnya Uwais Al-Qoroniyy, Sufyan Ats-Tsauri, Nasrudin, Rabi’ah Binti Ismail Al-Adawiyah dan masih banyak tokoh sufi lainnya. Bahkan dalam suatu riwayat dari Imam Ibnu Majah,bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa yang artinya “Ya Allah ! Hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang miskin.” Lalu bagamana seseorang harus bersikap dalam kehidupan modern saat ini dimana kesejahteraan manusia semakin meningkat dan kekayaan merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian orang banyak?

Sebelumnya marilah kita fahami tentang hakikat zuhud yang banyak diungkap Al-Qur’an, hadits, dan para ulama. Salah satunya tertulis dalam surat Al-Hadiid ayat 20-23 berikut ini.
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Dari ayat di atas sangatlah jelas akan posisi dari dunia dan akhirat yaitu dunia adalah fana dan sementara akhirat adalah benar dan abadi. Selain itu, juga mengajarkan untuk bersikap syukur, tawakal, tawadhu’, qona’ah, faqir (merasa lemah dan sangat membutuhkan Alloh), khouf (takut akan kemurkaan Alloh) dan roja’ (mengharap ridho Allah). Sikap-sikap tersebut dapat memunculkan sikap zuhud yang merupakan sifat mulia orang-orang beriman karena tidak tertipu oleh dunia dengan segala kelezatannya baik harta maupun tahta. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia tetapi orang beriman yang beramal shalih di dunia, memakmurkan bumi, dan berbuat untuk kemaslahatan manusia, kemudian mereka meraih hasilnya di dunia berupa fasilitas dan kenikmatan yang halal di dunia. Pada saat yang sama, hati mereka tidak tertipu pada dunia. Mereka meyakini betul bahwa dunia itu tidak kekal dan akhiratlah yang lebih baik dan lebih kekal. Sehingga, orang-orang beriman beramal di dunia dengan segala kesungguhan bukan hanya untuk mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia, tetapi untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya di akhirat.

 

Dalam mengamalkan sikap zuhud tokoh-tokoh Islam memang banyak yang meninggalkan keduniawian untuk hanya beribadah kepada Alloh terutama tokoh dari kalangan Sufi. Namun tidak semua tokoh Islam besikap demikian misalnya Abu Bakar Ash-Shiddiq yang memiliki harta melimpah yang banyak digunakan untuk berjuang di jalan Alloh, Qathbu Al Din Ash Shirazi salah seorang tokoh sufi yang diakui keilmuannya di bidang kedokteran, dan masih banyak tokoh Islam lainnya.

 

Dari hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seakan timbul pertanyaan : Mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh umatnya menjadi miskin? Bukankah di dalam Islam ada hukum zakat yang justru salah satu faedahnya ialah untuk memerangi kemiskinan? Dapatkah hukum zakat itu terlaksana kalau kita semua menjadi miskin? Dapatkah kita berjuang dengan harta-harta kita sebagaimana yang Allah Subhanahu wa ta’ala perintahkan kalau kita hidup dalam kemiskinan ?

Padahal yang benar miskin di dalam do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini ialah : Orang yang Khusyu dan Mutawaadli’ . Sebagaimana hal ini telah diterangkan oleh Ulama-ulama kita :

Ø  Imam Ibnul Atsir di kitabnya An-Nihaayah fi Gharibil Hadits mengatakan : Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan Miskin ….. Yang dikehendaki dengannya ialah : Tawadlu’ dan Khusyu’, dan supaya tidak menjadi orang-orang yang sombong dan takabur .

Ø  Imam Baihaqi mengatakan : Menurutku bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah meminta keadaan miskin yang maknanya kekurangan tetapi beliau meminta miskin yang maknanya tunduk dan merendahkan diri (di hadapan Alloh, pen.) . .

Ø  Demikian juga maknanya telah diterangkan oleh Hujjatul Islam al-Imam Ghazali di kitabnya yang mashur Al-Ihya’ 4/193.

Ø  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : Hidupkanlah aku dalam keadaan Khusyu’ dan Tawadlu’ . . Beliau juga mengatakan : …. bukanlah yang dikehendaki dengan miskin tidak mempunyai harta …

 

Sudah sangat jelaslah tentang makna zuhud yang sepatutnya kita amalkan dalam kehidupan modern ini yaitu Islam mengharuskan umatnya agar memakmurkam bumi, bekerja, dan menguasai dunia, tetapi pada saat yang sama tidak tertipu oleh dunia. Dengan ulasan di atas bukan berarti kita menyalahkan ataupun merendahkan dari beberapa tokoh yang mungkin berbeda pendapat dengan kita dalam memaknai kata zuhud. Karena sudah jelas bahwa perbedaan adalah rahmat dari Allah Subhanallahu Wa Ta’ala.

 

 

  1. C.  KESIMPULAN dan PENUTUP

 

          Zuhud melahirkan sikap menahan diri dan memanfaatkan harta untuk kepentingan mempunyai nilai ekonomis, tetapi juga sebagai aset sosial dan mempunyai tanggungjawab pengawasan aktif sebagai pemanfaatan harta dalam masyarakat. Dengan demikian zuhud dapat dijadikan benteng dalam diri untuk menghadapi gemerlapnya dunia. Dengan zuhud akan tampil sikap positif lainnya, seperti sikap qana’ah (menerima apa yang telah ada/dimiliki), tawakkul (pasrah diri kepada Allah SWT), wara’ (menjaga diri agar jangan sampai makan barang yang meragukan (syubhat)), sabar (tabah menerima keadaan dirinya), syukur (menerima nikmat dengan hati lapang dan menggunakan sesuai dengan fungsi dan proporsinya). Sehingga tidak mungkin tergoda dengan situasi dan kondisi yang melingkupinya, bisa menguasai diri, dan mampu menyesuaikan diri di tengah-tengah deru modernisasi dan industrialisasi.

Di sinilah letak puncak kebahagiaan seorang sufi yang sudah mencapai tuma’ninah al qalb, yaitu ketenangan hati yang merupakan pangkal kebahagiaan, baik bahagia di dunia maupun di akhirat.

 

 

  1. D.  DAFTAR PUSTAKA
  • ·         Riyadh, Saad.Jiwa dalam Bimbingan Rasulullah.2007.Gema Insani ;Depok
  • ·         Simuh.Tasawwuf dan Perkembangannya dalam Islam.1996.Fajar Interpratama Offset;Jakarta
  • ·         Muhammad, Hasyim.Tasawwuf dan Psikologi.2002.Pustaka Pelajar Offset;Yogyakarta
  • ·         Syukur, M.Amin.Zuhud di Abad Modern.1997.Pustaka Pelajar Offset;Yogyakarta
  • ·         www.baitulamin.org/tasawuf/suluk/10-zuhudtasawuf-tarekat.html
  • ·         tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/konsep-zuhud-dalam-kajian-tasawuf/
  • ·         netlog.wordpress.com/category/dari-zuhud-ke-tasawuf/
  • ·         kafeilmu.co.cc/tema/konsep-zuhudtasawuf.html
  • ·         kafe-sufi.blogspot.com/2010/06/zuhud.html
  • nurulwatoni.tripod.com/SEJARAH_PEMIKIRAN_TASAWUF.html

2 thoughts on “KONTEKSTUALISASI ZUHUD DI ABAD MODERN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s