Induk Akhlak Islam -> Akhlak Tasawuf

Bab 3

INDUK AKHLAK ISLAM

Disusun oleh:

Rizky Wulandari (10390007)

Galuh Tri Pambekti (10390008)

Dzikron Abdillah (10390050)

Ilmu Akhlak Islami,secra garis besar dapat dibagi dua bagian,yaitu akhlak yang baik (al-akhlak al-karimah),dan akhlak yang buruk (al-akhlak al-mazmumah).

Secara teoritis macam-macam akhlak tersebut berinduk kepada tiga perbuatan utama,yaitu hikmah (bijaksana),syaja’ah (perwira atau ksatria),dan iffah (menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat). Ketiga macam induk akhlak ini munculdari sikap adil yang terdapat dalam diri manusia,yaitu ‘aql (pemikiran),ghadab (amarah),dan nafsu syahwat (dorongan seksual).

Inti akhlak pada akhirnya bermuara pada sikap adil dalam mempergunakan potensi rohaniah yang dimiliki manusia.

Keadilan erat kaitannya dengan timbulnya berbagai perbuatan keji lainnya.Perbuatan tersebut pada akhirnya akan membawa kepada “teori pertengahan”,yaitu pada sikap pertengahan sebagai pangkal timbulnya kebajikan.

Akal yang digunakan secara berlebihan atau terlalu lemah merupakan pangkal timbulnya akhlak yang tercela. Demikian penggunaan amarah secara berlebihan atau berkurang sama-sama akan menimbulkan akhlak yang buruk. Nafsu syahwat yang digunakan secara pertengahanlah yang akan menimbulkan sikap iffah,yaitu orang yang dapat menahan syahwat dan farjinya dari berbuat lacur. Dan dari tiga sikap inilah yang apabila digunakan dengan pertengahan akan menimbulkan akhlak mulia.

Dalam perkembangan selanjutnya teori pertengahan (adil) ini digunakan pula untuk menjelaskan berbagai sifat Tuhan yang terkesan saling berlawanan. Sifat rahman (Maha Pengasih) dan rahim (Maha Penyayang) menunjukkan pada kelembutan Tuhan. Namun sifat jabbar (Maha Memaksa) dan kohhar (Maha Mengalahkan) menunjukkan pada kekerasan Tuhan. Sifat-sifat yang tampak saling kontradiktif ini dapat dipertemukan melalui sikap pertengahan. Secara struktural sifat-sifat Tuhan yang lainnya berada di bawah koordinasi sifat adil. Dengan demikian sifat adil atau seimbang menjadi coordinator dari sifat-sifat lainnya.

Penerapan sifat adil (pertengahan) Tuhan dalam hubungannya dengan akhlak lebih lanjut dapat dijumpai dalam ajaran Muktazilah.

“Muktazilah telah memberikan petunjukdengan jelas, bahwa seluruh perbutan yang dilakukan oleh Tuhan terhadap makhluk-Nya adalah dalam rangka keadilan-Nya. Demikian manusia berhubungan dengan Tuhan melalui pengembangan sikap adil yang dilakukannya. Manusia yang berbuat adil adalah manusia yang meniru sifat Tuhan dan selalu kepada-Nya”(Mahmud Shubhi)

Teori pertengahan sebagai dikembangkan di atas memang tidak luput pula dari kritik. Menurut para pengkritik,bahwa keutamaan tidak selalu pada titik tengah. Keutamaan sebenarnya berada pada titik yang jauhnya tidak sama dari dua sisi keburukan. Contoh,bahwa sikap dermawan adalah lebih dekat kepada sifat boros dibandingkan sifat kikir.

Teori pertengahan hanya terbatas pada akhlak yang dasarnya adalah bersumber pada penggunaan potensi rohaniah: akal,amarah dan nafsu syahwat yang digunakan secara pertengahan.

Jika teori pertengahan yang merupakan sumber akhlak tersebut dihubungkan dengan Al-Qur’an,tampak kata-kata adil dalam al-Qur’an digunakan untuk berbagai peristiwa dan aktivitas kehidupan. Ini menunjukkan bahwa teori pertengahan sebagai timbulnya akhlak yang mulia tidak bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an. Namun demikian untuk menunjukkan contoh-contoh bentuk perbuatan dalam hubungannya dengan teori pertengahan, Al-Qur’an tidak selamanya menggunakan kata adil,misalnya:

  • Sikap pertengahan antara kikir dan boros misalnya, Al-Qur’an menggunakan kata qawwama.
  • Sikap pertengahan (adil) dalam hal menimbang, Al-Qur’an menggunakan kata al-Qisth
  • Dalam hal pengaturan volume suara yang pertengahan dalam berdoa, Al-Qur’an menempatkannya antara tadarru’,khifah dengan al-jahr.
  • Untuk menggambarkan sikap pertengahan dalam mencintai atau membenci seseorang, Al-Qur’an menggunakan kata haunamma.
  • Untuk menunjukkan sikap pertengahan (adil) dalam memutuskan perkara, Al-Qur’an menggunakan kata al-Adl.
  • Menggambarkan keadaan pertengahan atau yang ideal terhadap binatan semacam sapi, Al-Qur’an menggunakan kata awwanun.
  • Menggambarkan sikap antara menyalurkan emosi dan menahannya, Al-Qur’an menggunakan kata al-Kadzimin.

Sehingga dapat dikatakan bahwa dalam menggambarkan keadaan yang adil atau pertengahan, Al-Qur’an jauh lebih lengkap, mendetail dan komprehensif dibandingkan yang diberikan para folosof lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s