FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA:FATWA TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA:FATWA TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA

MAKALAH

Diajukan guna memenuhi tugas dalam mata kuliah Pengantar Studi Islam

Disusun Oleh Kelompok 2 KUI-A:

                                   1.Phitawa Agung Nugroho                10390001

                                   2.Galuh Tri Pambekti                         10390008

                                   3.Khaerul Amri                                                10390019

                                   4.Ambar Kusuma Ningsih                  10390024

                                   5.Ahmad Yusuf                                    10390031

                                   6.Rahma Meidita mudyas antari       10390038

                                   7.Apriliana Ika Kusumanisita             10390043

                                   8.Tara Auliya                                       10390048

Dosen:

Ahmad Anfasul Marom,S.H.I,M.A.

KEUANGAN ISLAM

FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

2010

KATA PENGANTAR

 

Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Zat yang Maha berkuasa dan Maha berkehendak atas segala sesuatu. Tempat memohon dan mengembalikan segala urusan serta sholawat dan salam tercurah pada Rasulullah SAW beserta keluarga,sahabat serta umatnya hingga akhir zaman, sehingga pada kesempatan kali ini penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul tentang Fatwa Majelis Ulama Indonesia: Fatwa Tentang Perkawinan Antar Agama.

Untuk melaksanakan hal tersebut saya diberi kesempatan seluas-luasnya untuk memperoleh wawasan dan pengetahuan yang lebih tinggi lagi.

Dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun makalah ini sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada Dosen Ahmad Anfasul Marom,S.H.I.,M.A. yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

 

Yogyakarta,    Desember 2010

Penulis,

 

 

 

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA:FATWA TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA

A.PENDAHULUAN

Masalah perkawinan beda agama telah mendapat perhatian serius dari para ulama di Tanah Air.MUI dalam Musyawarah Nasional II pada 1980 telah menetapkan fatwa tentang pernikahan beda agama:

Pertama, para ulama di Tanah Air memutuskan bahwa perkawinan wanita Muslim dengan laki-laki non-muslim hukumnya haram. Kedua, seorang laki-laki Muslim diharamkan mengawini wanita bukan Muslim.

Dalam memutuskan fatwanya, MUI menggunakan Al-Qur’an dan Hadis sebagai dasar hukum. Selain itu, MUI juga menggunakan Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 5 serta At-Tahrim ayat 6 sebagai dalil. Sedangkan hadits yang dijadikan dalil adalah Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Tabrani: ”Barang siapa telah kawin, ia telah memelihara setengah bagian dari imannya, karena itu, hendaklah ia takwa (takut) kepada Allah dalam bagian yang lain”.

Ulama NU juga telah menetapkan fatwa terkait nikah beda agama. Fatwa itu ditetapkan dalam Muktamar ke-28 di Yogyakarta akhir November 1989. Ulama NU dalam fatwanya menegaskan bahwa nikah antara dua orang yang berlainan agama di Indonesia hukumnya tidak sah.

Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah juga telah menetapkan fatwa tentang pernikahan beda agama bahwa seorang wanita Muslim dilarang menikah dengan pria non-Muslim. Dalam UU No.1 tahun 1974 pasal 2 ayat 1 juga disebutkan bahwa “Pernikahan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu”.

 

B.PEMBAHASAN

1. Kawin campur adalah perkawinan yang terjadi antara pihak-pihak yang berbeda agama, yakni muslim (baik pria maupun wanita) dengan non-muslim. Istilah non-muslim dibedakan dalam dua kategori: (1) ahli kitab, (2) bukan ahli kitab. Menurut jumhur ulama,baik Imam Malik, Abu Hanafi, asy-Syafi’I maupun Ahmad Ibnu Hanbal atau kalangan Sunni, seorang pria muslim diperbolehkan kawin dengan wanita ahli kitab yang berbeda dalam lindungan atau kekuasaan Negara Islam. Menurut golongan Syi’ah, baik Imamiyah maupun Zaidiyah, berpendapat bahwa pria muslim tidak boleh kawin dengan wanita ahli kitab. Persoalan ini telah dikuatkan oleh Keputusan Menteri Agama RI no.154 th 1991 dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) terutama pasal 40 ayat C dan pasal 44 yang melarang kawin campur antara muslim dengan non-muslim.

KOMPILASI HUKUM ISLAM

Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia

Nomor 154 Tahun 1991:

Pasal 40

Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita karena keadaan tertentu

a.               Karena wanita yang bersangkutan masih terikat satu perkawinan dengan pria lain.

b.              Seorang wanita yang masih berada dalam masa iddah dengan pria lain.

c.               Seorang wanita yang tidak beragama Islam

Pasal 44

Seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama.

2. Keputusan Fatwa MUI nomor 4/MUNAS VII/MUI/8/2005 tentang perkawinan beda agama,MUI dalam Musyawarah Nasional MUI VII pada tanggal 19-22 Jumadil Akhir 1426 H/26-29 Juli 2005 M di Jakarta setelah:

MENIMBANG:

  1. Bahwa belakangan ini disinyalir banyak terjadi perkawinan beda agama;
  2. Bahwa perkawinan beda agama ini bukan saja mengundang perdebatan di   antara sesama umat Islam,akan tetapi juga sering mengundang keresahan di tengah-tengah masyarakat;
  3. Bahwa di tengah-tengah masyarakat telah muncul pemikiran yang membenarkan perkawinan beda agama dengan dalih hak asasi manusia dan kemaslahatan;
  4. Bahwa untuk mewujudkan dan memelihara ketentraman kehidupan berumah  tangga,MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang perkawinan beda agama untuk dijadikan pedoman;

MENGINGAT:

1.Firman Allah SWT

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya),maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi:dua,tiga,atau empat.Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil,maka (kawinilah) seorang saja,atau budak-budak yang kamu miliki.Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.(QS.An-Nisa [4]:3).

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.(QS.Ar-Rum [30]:21).

 “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik.Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu,dan makanan kamu halal bagi mereka.(Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu,bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya,tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang yang merugi”.(QS.Al-Maidah [5]:5).

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita yang musyrik,sebelum mereka beriman.Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik,walaupun dia menarik hatimu.Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman.Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu.Mereka mengajak ke neraka,sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.(QS.Al-Baqarah [2]:221).

2.Hadis Rasulullah SAW, antara lain:

“Wanita itu (boleh) dinikahi karena empat hal:

karena hartanya, karena (asal-usul) keturunannya, karena kecantikannya, karena agamanya. Maka hendaklah kamu berpegang teguh (dengan perempuan) yang memeluk agama Islam;(jika tidak),akan binasalah kedua tangan-mu”.(HR.muttafaq alaih dari Abi Hurairah r.a.).

3.Qa’idah Fiqh:

“Mencegah kemafsadatan lebih didahulukan (diutamakan) daripada menarik kemaslahatan”.

MEMPERHATIKAN:

  1. Keputusan Fatwa MUI dalam MUNAS II tahun 1400/1980 tentang perkawinan campuran.
  2. Pendapat Sidang Komisi C bidang Fatwa pada MUNAS VII MUI 2005.

Dengan bertawakal kepada Allah SWT,

MEMUTUSKAN DAN MENETAPKAN:FATWA TENTANG PERKAWINAN BEDA AGAMA

  1. Perkawinan beda agama adalah haram dan tidak sah.
  2. Perkawinan laki-laki muslim dengan wanita Ahlu Kitab,menurut qaul mu’tamad,adalah haram dan tidak sah.

Nikah beda agama ada beberapa macam yaitu:

  1. Laki-laki Muslim boleh menikahi wanita Yahudi dan Nashara (Ahlu Kitab).(QS.Al-Maidah:5).
  2. Laki-laki Muslim haram menikahi wanita musyrik.(Al-Baqarah:221).
  3. Wanita Muslimah tidak boleh dinikahi oleh laki-laki Ahlul Kitab.
  4. Wanita Muslimah tidak boleh dinikahi oleh laki-laki musyrik.(Al-Mumtahanah:10).

 

 

KATA PENUTUP

 

Kesimpulan dari makalah ini adalah semua pernikahan beda agama ini hukumnya haram dan tidak sah menurut fatwa MUI dengan berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis.Walaupun fatwa tersebut sudah di keluarkan dan di sah kan oleh MUI akan tetapi sebagian masyarakat Indonesia masih mengabaikan fatwa tersebut. Karna bertolak belakang dengan keadaan struktural masyarakat indonesia yang tidak mempermasalahkan perbedaan agama dengan banyak contoh pernikahan masyarakat Indonesia yang berbeda agama dan tidak dipermasalahkan oleh pemerintah, walaupun tidak di sahkan dalam hukum islam.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Ahmad Anfasul Marom,S.H.I,M.A. yang telah banyak membantu dalam penyusunan makalah ini,sehingga dapat selesai tepat pada waktunya. Akhir kata,saran dan kritik yang membangun makalah ini sangat saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Amien…

 

Yogyakarta,08 Desember 2010

Penulis,

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s